Rabu, 21 Januari 2009

Potret Suami Yang Menyejukkan Hati Istri

Sejarah telah menunjukkan kepada kita berbagai kisah yang mudah dicerna, kisah para suami yang memiliki kemuliaan dan menaruh perhatian terhadap perasaan istrinya dengan sebenar-benarnya. mereka adalah contoh nyata dalam rasa malu, kecintaan, kesabaran, akhlak yang mulia, kepekaan perasaan, kesetiaan dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya. berikut ini, kami sampaikan kepada Anda sekilas dari kisah tersebut.
Al Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, "Ditanyakan kepada Abu Utsman An Naisaburi, 'Amalan apakah yang paling Anda jadikan andalan?' beliau berkata, 'Di usia muda, keluargaku mendesakku untuk segera menikah, namun aku masih menolak. tiba-tiba datanglah seorang wanita dan berkata, 'Wahai Abu Utsman, aku tertarik kepadamu. Aku memintamu atas nama Allah agar engkau sudi menikahiku'. maka, aku pun mendatangi ayahnya. Ia seorang fakir dan ia dengan senang hati menikahkan aku.
Ketika ia menemuiku, maka aku melihatnya, ternyata dia itu cacat dan buruk parasnya. karena kecintaan dia kepadaku maka aku tidak mau keluar. aku duduk dengan setia untuk menjaga hatinya. aku tidak menampakkan kebencian sedikitpun terhadapnya, padahal seolah-olah aku berasa di atas bara api pohon al-ghodho karena kebencianku kepadanya. hal itu berlangsung selama lima belas tahun, hingga akhirnya istriku wafat. Maka, tak ada amalanku yang lebih aku harapkan menjadi andalanku melebihi amal ketika aku menjaga hatinya tersebut." (Shoidul Khothir)
Al Allamah Syaikh Muhammad Al-Khodhr Husain rahimahullah melantunkan bait-bait syair yang ditujukan kepada istrinya, Zainab yang meninggal di Kairo pada tahun 1372 H, syair tersebut menjelaskan kesedihan beliau atas perpisahannya dengan sang istri. Ia menyebutkan kecintaan hatinya, yang menunjukkan keagungan akhlak, agama dan kesetiaannya. Istrinya adalah seorang wanita yang berbakti kepada kedua orang tua dan begitu shalihah. syair tersebut diungkapkan ketika beliau berumur 79 tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar